Sebanyak 2.084.593 pekerja dari sektor formal dan informal yang berasal dari 116.370 perusahaan dirumahkan bahkan mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) sejak merebaknya pandemi virus korona atau covid-19.

Data per 20 April menunjukkan jumlah perusahaan dan pekerja formal yang dirumahkan sebanyak 1.304.777 orang dari 43.690 perusahaan. Sedangkan pekerja formal yang mengalami PHK sebanyak 241.431 orang dari 41.236 perusahaan.

Menteri Ketenagakerjaan (Menaker), Ida Fauziyah, mengatakan Sektor informal juga terpukul karena kehilangan 538.385 pekerja yang terdampak dari 31.444 perusahaan atau UMKM.

Dia menghimbau kepada pelaku usaha untuk memanggil kembali pekerja atau buruh yang mengalami PHK dan dirumahkan karena wabah virus korona.

“Jangan lupa, kalau bisnis sudah jalan lagi, sudah ada rejeki, anak-anak yang di PHK harus jadi prioritas dipanggil lagi. Kan sudah saling kenal, tidak usah diberikan pelatihan lagi, sudah seperti keluarga saja selama ini,” kata Ida melalui keterangan resminya, Rabu (22/4).

Upaya tersebut dinilai sebagai langkah yang cepat untuk memutar roda perekonomian.

“Ekonomi kita upayakan tetap berputar. Maka Proyek Strategis Nasional (PSN) harus tetap jalan. Kalau tidak, negara tidak punya pemasukan untuk membiayai program bantuan sosial. Namun tentu beroperasinya sesuai protokol covid di tempat kerja,” ujar Ida.

Politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) tersebut berharap pemutusan hubungan kerja (PHK) sebagai langkah pamungkas dalam mengatasi dampak pandemi ini.

“PHK itu langkah pamungkas, langkah terpaksa ketika langkah lain tak mungkin lagi. Tapi kalau masih mungkin meniadakan lembur, mengurangi sift dan jam kerja, merumahkan bergilir dengan separo gaji, ya dicoba dululah langkah itu,” pungkasnya. 

Share This Article